Belum tuntas saudara kita yang di Wasior - Papua Barat, lepas dari duka dan airmatanya karena bencana banjir bandang. Disusul tsunami di kepulauan Mentawai, dan lagi-lagi korban nyawa melayang. Bahkan media belum semua memberitakan bencana-bencana tersebut, sudah disusul dengan erupsi gunung Merapi di Jawa. Bukan berarti mau mencari ketenaran dan popularitas,sama saekali bukan saya hanya sekedar ikut berbagi berita sebagai renungan dan keprihatinan yang mendalam buat-saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air yang saat ini tengah ditimpa musibah. Mudah-mudahan diberi ketabahan dan kekuatan iman, dan mari kita bantu saudara-saudara kita dengan menyalurkan bantuan yang sangat mereka butuhkan. Jika ingin lihat berita di : http://id.ibtimes.com/articles/2983/20101026/gunung-merapi-meletus-diikuti-awan-panas.htm
Membicarakan Merapi maka pastilah kita teringat sosok seseorang yang telah berumur yaitu : mBah Maridjan. Demi mengapresiasi jasa-jasa beliau dan kebesaran namanya yang tak lepas dari nama gunung Merapi, maka untuk lebih mengenal dengan dekat beliau berikut saya tampilkan kompilasi berita yang saya ambil dari www.republika.co.id. Semoga arwah para korban bencana dan musibah baik itu di Wasior,kepulauan Mentawai, dan di gunung Merapi dan ditempat lain yang sedang menerima musibah, semoga dalam musibah ini ada hikmahnya, khusus teruntuk mBah Maridjan dan juga para korban musibah di tempat lainnya di negeriku ini, di terima arwahnya di sisi Allah SWT, di ampuni semua kesalahannya dan di terima semua amal kebaikannya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan iman .Dan mari kita bantu mereka dengan menyalurkan bantuan melalui jalur-jalur yang sudah pasti dan bisa di pertanggung jawabkan.Berikut adalah kompilasi beritanya dan andapun bisa langsung membacanya di laman www.republika.co.id Siapa Sebenarnya Mbah Maridjan?
Rabu, 27 Oktober 2010, 09:01 WIB -REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA--Mbah Maridjan alias Mas Penewu Suraksohargo melambung namanya ketika Merapi melakukan erupsi tahun 2006 lalu. Ia bersama sejumlah warga Kinahrejo Kecamatan Cangkringan Sleman yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III menolak untuk di evakuasi. Padahal saat itu, Gunung Merapi sudah masuk tataran Awas.
Bahkan Raja Kraton Ngayogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X sempat meminta dia untuk turun gunung. Namun yang bersangkutan tidak mau. Beruntung erupsi Merapi tidak segawat yang diperkirakan para ahli, sehingga kekukuhan Mbah Maridjan bahwa Merapi tidak berbahaya menjadi benar.
Namanya terus melambung dan kemudian menjadi bintang iklan sebuah minuman berenergi. Duit pun mengalir deras ke kantongnya. Selebritis gaek ini tidak menikmati uangnya sendiri, tapi dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Di daerah Kinahrejo, ia membangun masjid serta gereja. Warga di sana pun diminta beribadah sesuai keyakinan. Selain itu, Mbah Maridjan acap kali menyalurkan beras dan sembako kepada warga yang membutuhkan.
Mbah Maridjan sendiri lahir di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman pada tahun 1927. Kekuasaan sebagai kunci Gunung Merapi itu ia dapatkan dari amanah yang diberikan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Ia mulai menjabat sebagai wakil juru kunci pada tahun 1970. Jabatan sebagai juru kunci lalu ia sandang sejak tahun 1982. Mbah Maridjan mempunyai beberapa anak yakno Mbah Ajungan, Raden Ayu Surjuna, dan Raden Ayu Murjana.
Sempat Dikabarkan Selamat, Mbah Maridjan Diduga Meninggal Rabu, 27 Oktober 2010, 07:49 WIB REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN--Juru Kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan diduga tewas akibat semburan awan panas letusan Gunung Merapi, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (26/10) sore. Seorang anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Slamet, mengatakan, saat dilakukan penyisiran pada Rabu pagi ditemukan sesosok mayat dalam posisi sujud di dalam kamar mandi rumah Mbah Maridjan.
"Kemungkinan mayat yang ditemukan tersebut adalah Mbah Maridjan, namun ini belum pasti karena wajah dan seluruh tubuhnya sudah rusak dan sulit dikenali lagi," katanya. Menurut dia, mayat tersebut ditemukan di dalam kamar mandi rumah dalam posisi sujud dan tertimpa reruntuhan tembok dan pohon.
"Biasanya di dalam rumah Mbah Maridjan tersebut hanya ditinggali oleh Mbah Maridjan sendiri," katanya. Ia mengatakan, kondisi di dusun sekitar tempat tinggal Mbah Maridjan mengalami kerusakan yang sangat parah, hampir semua rumah dan pepohonan roboh. "Kerusakan ini akibat terjangan awan panas dan bukan karena material lava," katanya.
Kepala Humas dan Hukum RS Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha mengatakan saat ini jenazah Mbah Maridjan masih berada di Bagian Kedokteran Forensik RS Dr Sardjito, Yogyalarta. "Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke RS Dr Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB, informasi yang kami peroleh dari petugas SAR yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan kain sarung.
Kepala Humas dan Hukum RS Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha mengatakan saat ini jenazah Mbah Maridjan masih berada di Bagian Kedokteran Forensik RS Dr Sardjito, Yogyalarta. "Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke RS Dr Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB, informasi yang kami peroleh dari petugas SAR yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan kain sarung.
Sebelumnya, Mbah Maridjan sempat dikabarkan selamat. Informasi ini disampaikan oleh salah seorang tim penolong yang memasuki kawasan Kinahrejo, tempat Mbah Maridjan tinggal.
Mbah Maridjan Meninggal
Rabu, 27 Oktober 2010, 08:09 WIB -REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN – Juru Kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan akhirnya ditemukan tewas oleh tim penyelamat yang diterjunkan sejak Rabu (27/10) dinihari. Jasadnya sekitar pukul 06.05 berhasil dievakuasi dari lereng Gunung Merapi tepatnya di Desa Kinahrejo Kecamatan Cangkringan, Sleman atau berjarak sekitar 6 km dari puncak Merapi.
Keterangan yang dihimpun Republika, jenasah Mbah Maridjan ditemukan dalam kondisi sujud di dalam kamarnya. Ia masih mengenakan baju batik, kopiah warna putih serta sarung. Diduga saat bencana wedhus gembel datang yang bersangkutan sedang shalat.
Kabag Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito, Heru Trisno Nugroho membenarkan salah satu jenasah yang dikirim ke rumah sakitnya adalah Mbah Maridjan. Bintang iklan yang terkenal dengan kalimat Roso-roso itu dikirim sudah dalam kondisi tidak bernyawa. ‘’Tubuhnya sedang bersujud,’’ kata Heru kepada Republika.
Tim Dokter Visum Jenazah Mbah Maridjan Rabu, 27 Oktober 2010, 09:37 WIB-REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA--Tim dokter Rumah Sakit Dr Sardjito Yogyakarta sedang memvisum jenazah yang diduga juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan. Hal ini disampaikan Humas Rumah Sakit RS Dr Sardjito, Yogyakarta, Heru Trisno Nugroho, Rabu (27/10).
Saat Bersujud, Mbah Maridjan Tertimpa Dinding Kamar Mandi Rumahnya
Rabu, 27 Oktober 2010, 09:11 WIB-REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN--Teka-teki penyebab kematian Mbah Maridjan sedikit demi sedikit terkuak. Pria kelahiran 1927 ini menemui ajal kemungkinan bukan langsung terkena terjangan wedhus gembel atau awan panas.
‘’Ada tanda-tanda Mbah Maridjan meninggal karena tertimpa runtuhan dinding kamar mandi yang berhimpitan dengan kamar tidurnya. Jadi pada saat dia sujud, dinding kamar mandi itu ambruk,’’ kata Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito, Heru Trisno Nugroho kepada Republika, Rabu (27/10).
Runtuhan tersebut diperkuat dari kondisi badan korban yang lebam yang menandakan dugaan tersebut. Selain itu, awan panas tadi juga menyergap rumahnya. Tubuh Mbah Maridjan sebagian besar melepuh, begitu pula bagian mukanya. ‘’Memang agak sulit dikenali, tapi dari ciri fisiknya akhirnya bisa diketahui itu Mbah Maridjan,’’ tegasnya.
Kediaman Mbah Maridjan sendiri kini luluh lantak. Di rumah tersebut, ditemukan sedikitnya 15 orang yang semuanya meninggal dunia. Awan panas atau dikenal sebagai wedhus gembel itu cukup panas. Menurut Balai Pengembangan Penyelidikan dan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), awan panas itu memiliki suhu sekitar 600 derajat Celsius dengan kecepatan luncuran mencapai 200 km per jam.
‘’Ada tanda-tanda Mbah Maridjan meninggal karena tertimpa runtuhan dinding kamar mandi yang berhimpitan dengan kamar tidurnya. Jadi pada saat dia sujud, dinding kamar mandi itu ambruk,’’ kata Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito, Heru Trisno Nugroho kepada Republika, Rabu (27/10).
Runtuhan tersebut diperkuat dari kondisi badan korban yang lebam yang menandakan dugaan tersebut. Selain itu, awan panas tadi juga menyergap rumahnya. Tubuh Mbah Maridjan sebagian besar melepuh, begitu pula bagian mukanya. ‘’Memang agak sulit dikenali, tapi dari ciri fisiknya akhirnya bisa diketahui itu Mbah Maridjan,’’ tegasnya.
Kediaman Mbah Maridjan sendiri kini luluh lantak. Di rumah tersebut, ditemukan sedikitnya 15 orang yang semuanya meninggal dunia. Awan panas atau dikenal sebagai wedhus gembel itu cukup panas. Menurut Balai Pengembangan Penyelidikan dan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), awan panas itu memiliki suhu sekitar 600 derajat Celsius dengan kecepatan luncuran mencapai 200 km per jam.
Rabu, 27 Oktober 2010, 09:00 WIB -REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA-–Kraton Yogyakarta memastikan jasad yang terbujur kaku di ruang jenasah RSUP Dr Sardjito adalah Mbah Maridjan atau Mas Penewu Suraksohargo. Pernyataan tersebut dikeluarkan Kraton Yogyakarta melalui adik Sri Sultan Hamengku Buwono X yaitu GBPH Prabu Kusumo, Rabu (27/10).
‘’Iya itu jenasah Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi, “ kata Pengageng Pawedan Hageng Punokawan, GBPH Prabu Kusumo kepada Republika, Rabu (27/10).
Menurut Gusti Prabu, tim forensik sebelumnya telah diberitahu ciri khusus Mbah Maridjan yakni kedua dua ibu jarinya bengkok. Dan setelah dicocokkan oleh tim forensik ternyata betul. Kepastian tersebut juga makin diperkuat dari keterangan keluarganya yang dipanggil ke rumah sakit.
Kematian Mbah Maridjan menurut Gusti Prabu telah disampaikan kepada Ngarso Dalem, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Rencananya, Ngarso Dalem akan menelepon Menpora Andi Malarangeng guna menyampaikan kabar duka tersebut kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang saat ini berada di Hanoi
Rabu, 27 Oktober 2010, 09:25 WIB- REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA--Meski sudah melakukan erupsi, bukan berarti kondisi Gunung Merapi mulai normal. Sampai pagi ini pukul 09.00 WIB, kondisi Gunung Merapi masih fluktuatif. Bahkan karena aktivitasnya yang masih tinggi terjadi guguran lava pijar.
Kondisi inilah yang menyebabkan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta belum berani mencabut status Awas pada gunung teraktif di dunia ini. ‘’Sampai pukul 09.00 hari Rabu (27/10) ini status Merapi masih Awas,’’ kata Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTK, Sri Sumarti kepada wartawan.
Sri mengungkapkan, status Awas masih akan dipertahankan sampai kondisi Gunung Merapi normal. Menurutnya, dari laporan Seismograf, aktivitas yang terjadi pada gunung tersebut masih tinggi. Selain guguran lava, aktivitas kegempaan masih tinggi.
Saat ini, para petugas pengamat BPPTK telah diinstruksikan kembali ke poskonya masing-masing yang sejak semalam dikosongkan. Ia mengkhawatirkan, jika Merapi masih menyimpan energi dalam jumlah yang lebih besar lagi.'Walaupun Selasa (26/10) pukul 17.02, gunung tersebut sudah melakukan erupsi dan mengeluarkan awan panas. Tapi itu bukan pertanda semuanya selesai,’’ jelasnya.
Comments
Post a Comment