Ketika pohon-pohon ditebangi ....

Ini adalah hutan buatan dekat rumahku, waktu pagi. Biasanya tiap pagi terdengar suara burung liar berkicau bersaut-sautan, dan juga kokok ayam hutan, walaupun mungkin juga bersautan dengan burung piaraan tetangga. Tak jarrng juga suara ayam hutan, yang orang-orang bilang 'pitik ayam alas' kokoknya setiap pagi, terdengar, tapi pagi ini kokok itu tinggal kokok ayam kampung piaraan Pak Dhe.Tak jarang juga biawak kadang nyasar kepekarangan tetangga, tapi sekarang sudah lama aku tak mendengar tetangga cerita tentang biawak yang nyasar.Suasana pagi yang alami,indah dan menenteramkan itulah yang membuatku betah dan kerasan di kampung-ku ini.  Tapi beberapa pagi ini suara-suara khas itu seolah menghilang, tinggallahs uara kicauan burung dalam sangkar piaraan tetangga.
Dan pagi ini aku sedikit terusik melihat batang-batang pohon berserakan setelah ditebang dan ditumpuk menunggu diangkut. Batinku sedikit terenyuh menyaksikan tumpukan batang-batang pohon yang usaianya belum genap tiga tahun. Ya betul, usia pohon-pohon itu belum genap tiga tahun, karena beberapa tahun lalu memang lahan yang tadinya kebun-kebun penduduk setempat tersebut ditanami pohon-pohon jati dan sengon katanya untuk penghijauan, tapi karena namanya juga hutan buatan milik per-orangan yang semau mereka menanam dan menebangnya. Dalam hati saya bertanya kenapa mereka tidak atur dulu penebangannya, paling tidak dipilih dulu, beberapa yang sudah layak dan tidak langsung semuanya ditebang habis, walaupun mereka akan ganti pohon-pohon itu dengan jenis lainnya, tapi akan terlihat jika diatur dengan professional maka pohon-pohon itu tidak langung di tebang semua, tapi diselingi dahulu dengan yang  ditanami pohon yang baru dulu. Kemudian baru dipilih untuk ditebang beberapa dahulu setelah ditanami penggantinya, karena untuk menunggu tumbuhnya pohon baru paling tidak pastilah memerlukan waktu lagi. Tapi apa mau dikata karena begitulah ternyata orang-orang yang berduit, mereka mampu berbuat apa saja, sesuai keinginan mereka. Saya hanya berpikir untuk menunggu tumbuh saja  faktanya memerlukan waktu bertahun-tahun sedang ketika membalak hanya perlu waktu beberapa jam dan hari. 

Itu baru satu contoh kecil di negeriku ini, apalagi yang skala besar di Kalimantan, Papua, Sumatra dan tempat-tempat hutan tropis indah lainnya di negeriku ini. Pantas saja jika sekarang sering tkita mendengar berita terjadi banjir dimana-mana, jangankan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, sedang di Kalimantan dan Papua yang hutannya benar-benar masih alami saja (sebelum di tebangi) ada banjir. Padahal jika kita teringat dulu ketika masih duduk di bangku SD, tidak pernah mendengar berita banjir di Kalimantan atau Sumatra, tapi sekarang mereka mengalaminya banjir itu. Dan ternyata lagi menurut data para pemerhati hutan dan badan dunia, Indonesia kerusakan hutannya adalah yang tercepat didunia dan menjadi rekor tinggi.  Ah dunia memanglah sudah tua ditambah faktor perilaku manusianya yang "serakah" dan tak peduli yang sayangya lagi merekalah yang bermodal banyak, jangankan untuk membabat hutan setebal apapun, hanya  perlu hitungan jam dan hari. Maka selebihnya tinggallah pilihan kita dan juga para pembuat kebijakan, mau melestarikan atau mempercepat perambahan dan kerusakannya, atau ikut andil menjaga dan melestarikan atau malah ikut andil mempercepat kerusakannya. Karena jika kita menjaga dan melestarikan itu adalah sebuah 'tanaman' kebajikan yang buahnya akan kita rasakan terus turun-temurun sampai  ke anak cucu, sedang kebalikannya adalah  ikut andil dalam proses percepatan kerusakan dan kehancuran tidak hanya tanah-tanah di negara  ini tapi sekup yang lebih besar lagi  adalah planet bumi ini, maka  lakukanlah dengan bijak dan terencana . . . . .
wy collection

Comments